Tersingkirnya Riuh Malam Taman Ria

WAKTU masih menunjukkan pukul 19.00 WITA, tapi deretan café-café malam di sepanjang pantai Taman Ria terlihat sudah ramai. Seorang pemilik café terlihat sibuk mengipasi jagung manis yang sedang dibakar, yang lainnya menyiapkan roti bakar pesanan tetamu yang semakin banyak berdatangan. Malam itu memang malam Minggu dimana banyak orang ingin menghabiskan waktunya di luar rumah.
Sejak dibukanya jembatan Palu IV yang menghubungkan Palu Timur dan Palu Barat, Taman Ria menjadi sasaran serbuan warga untuk berakhir pekan, bukan hanya bagi kalangan muda, tetapi juga tua. Lokasinya yang terbuka dan berhadapan langsung dengan Teluk Palu adalah salah satu daya tariknya. Semilir angin pantai yang seolah mengelus kulit adalah pesona lain yang dimilikinya.
Taman Ria bukan lagi Taman Ria kumuh seperti tahun-tahun sebelumnya. Penataan kawasan berkonsep wisata ini menjadi magnitude tersendiri bagi warga setempat terlebih bagi para pendatang yang sekadar transit. Taman Ria dengan jembatan Palu IV-nya bahkan menjadi ikon baru bagi Kota Palu.
Waktu terus beranjak, gelombang pengunjung yang tadinya adalah keluarga-keluarga perlahan diwarnai dengan orang-orang muda. Tawa dan canda khas anak muda mulai terdengar dari satu kafe ke kafe lainnya. Hiruk-pikuk kendaraan yang melintas di sepanjang jalan yang dibagi dua jalur tersebut semakin ramai. Di beberapa titik pergerakan kendaraan bahkan merangkak karena padatnya kendaraan ditambah parkiran yang memenuhi setiap sisi jalan.
Sesekali gerombolan anak muda dengan klub-klub motornya berkonvoi. Deru suara mesin sangat riuh ditambah dengan klakson yang saling bersahutan. Tapi tak ada kejengkelan diantara tamu-tamu yang menikmati aneka hidangan khas. Bahkan menurutnya, keriuhan itu adalah bagian khas dari Taman Ria.
Keringat pemilik kafe terus bercucuran karena panasnya bara yang membakar jagung. Tapi ia senang karena malam itu banyak tetamu yang datang. Senyum simpul bocah di luar juga terus merekah. Katanya, uang parkiran cukup lumayan untuk menambah perongkosan hidup. Di ujung jalan yang masih gelap sana, sepasang muda-mudi juga terlihat masih asyik memadu kasih.
Tapi suasana yang digambarkan itu adalah dulu ketika Taman Ria mencapai puncak kejayaannya sekitar 2008 hingga 2010.
Kini, geliat malam itu nyaris menghilang ditelan tembok-tembok sarana perbelanjaan, sarana hiburan dan maraknya café-café yang hampir dapat dijumpai di setiap sudut jalan.
Taman Ria saat ini hanya menyisakan café-café mirip pondok tua yang nyaris tak terawat. Yang tersisa hanya beberapa bagian, itupun oleh mereka yang tak punya pilihan untuk berjualan di tempat lain. ***

Naskah dan Foto: Basri Marzuki

1 comments

Leave a Reply

*